TAHU TEMPE

March 1st, 2008 by kochan-piliang83

Media massa beberapa waktu lalu sangat gencar memberitakan hal-hal yang
sangat memojokkan. Narasumber diperoleh dari pihak yang merasa
dirugikan oleh adanya STPDN. Padahal sekian banyak Pemerintah Daerah
maupun Pusat yang memakai jasa Alimni STPDN tidak ada dijadikan
narasumber pada tiap pemberitaannya.
masyarakat menjadi sangat
yakin memang begitulah adanya STPDN. Coba kita renungkan sejenak,
apakah ada Pemerintah Daerah yang komplain terhadap keberadaanya?
jawabnya tidak. Hal ini terbukti setelah diadakannnya penelitian oleh
Prof. DR.Sadu Wasistiono. dengan sistem Angket yang disebarkan
keseluruh penjuru tanah air, semua Pemerintah Daerah mulai tingkat
Propinsi sampai tingkat Kabupaten yang memakai Alumni STPDN diperoleh
hasil 99% membutuhkan kader staf pemerintahan dalam negeri berbasis
pendidikan kepamongan.(kecuali Yogyakarta, karena Pemda Yogyakarta
tidak mengirimkan utusan untuk Tugas Belajar disana dengan dalih
membanggakan UGMnya, masa dokter bisa jadi camat.)
TAHU-TEMPE adalah
makanan yang tinggi gizinya, terjangkau dan banyak digemari masyarakat,
terutama Tahu tradisional, yang terkenal adalah Tahu Sumedang yang
wangi dan gurih. Akan tetapi, jika kita mengetahui bagaimana sebenarnya
proses pembuatan tahu-tempe, tahu yang dinjak-injak dengan kaki tempe
dengan pembusukan kacang kedelai dan jamurnya, pastilah banyak orang
yang ragu. Apalagi digembar-gemborkan melalui media dan dipertontonkan
prosesnya. Barangkali yang doyan Tahu-Tempe akan berpikir dua kali atau
bahkan sepuluh kali untuk untuk tetap mengkonsumsinya.
Jika kita
"bermajasria", setelah gencarnya pemberitaan negatif dari berbagai
media elektronik maka apa bedanya Praja STPDN dengan Tahu-Tempe?
Disini
ada penegasan kalau Praja STPDN bukan Tahu-Tempe. Semua sudah kami
korbankan demi negara, tidak pernah kami bertanya "apa yang negara
berikan pada kami", kami didoktrin agar selalu menanyakan pada diri
kami masing-masing "apa yang kami berikan pada negara", meskipun nyawa
sekalipun. Harapan kami "janganlah memandang palu sebagai pemecah kaca,
tapi lihatlah palu sbg pembentuk baja". karena "ombak yang tenang
mustahil membentuk nelayan yang tangguh". Lihat, perhatikan dan
pikirkan dengan akal yang sehat apakah sebegitu kejamnya Alumni STPDN
berinteraksi langsung dengan "public society". Kami punya etika dan
Perdupra, kami punya sumpah pamong, kami Punya Ikrar Praja. "Seribu
kali mendengar tidaklah sama dengan sekali melihat".
Meski ada satu
dua alumni yang gagal, itu semua karena tidak mau dibentuk dilembaga
STPDN, STPDN bukanlah mesin pencetak Pamong tapi hanya pembentuk
Pamong, ada yang bisa dibentuk dan ada yang susah dibentuk. STPDN
bukanlah pabrik pencetak. Tidak satupun diantara kami yang menyesal,
merasa dianiaya (kecuali yang kabur karena biasa dengan hidup senang,
putra pajabat, anak orang kaya yang lulus dg sogokan, yang dendam pada
senior. kareean seratus kali salah dilembaga belum seberapa jika satu
kali saja salah dimasyarakat nantinya. Kami semua bukanlah manusia
sempurna, tak luput dari khilaf dan dosa, karena kesempurnaan hanya
milik ALLAH. ‘Afwan kasiron’………

TAHU

March 1st, 2008 by kochan-piliang83

Tahu neh bahasannya YA?. Mksudnya bukan Tahu-tempe loh. Ada 4 jenis manusia jika dilihat dari segi tahu. antara lain:
1. Tahu - Tahu = artinya tahu akan ke"tahu"annya.
2. Tahu - tidak Tahu = artinya tahu akan ke"tidak-tahu"annya.
3. Tidak Tahu - Tahu = artinya tidak tahu akan ke"tahu"annya.
4. Tidak Tahu - Tidak Tahu = artinya tidak tahu akan ke"tidak-tahu"annya.

kriteria pertama mencerminkan orang yang sombong, dia pandai dan merasa dirinya pandai, orang yang merasa puas akan kepandain yang dimilikinya sekarang.
Tipe kedua adalah orang yang yang sadar diri akan kekurangannya, biasanya selalu ingin belajar dan terus belajar.
Tipe yg ketiga adalah orang yg sebenarnya bodoh tapi merasa pintar. sedang tipe yang ketiga adalah org yang bodoh tapi dia tidak tahu/tidak menyadari akan kebohonnya.